Refleksi Antiexit dari Sepak Bola SAYA bukan penggemar sepak bola. 2 … 4 July 2016, 05:51 WIB

SAYA bukan penggemar sepak bola.

Sebab itu, sampai kini saya tidak satu pun menyaksikan laga Euro 2016.

Namun, buat saya, pesta bola ini dan industrinya bisa jadi refleksi hubungan internasional negara-negara Eropa.

Belakangan ini, masa depan Uni Eropa tampak suram.

Belum lagi Brexit tuntas, sudah berembus wacana Frexit (French exit), Auxit (Austrian exit), dan Nexit (Netherland exit).

Buat para euroskeptik dan penganut realisme, kondisi itu menggembirakan.

Kerja sama transnasional seperti mustahil karena negara-negara akan selalu bersaing untuk sebuah kekuasaan.

Namun, sepak bola menunjukkan hal sebaliknya. Negara-negara Eropa, termasuk yang non-UE, bersedia bergabung dalam suatu entitas.

Di mata Menteri Luar Negeri Prancis era akhir 40-an, Robert Schuman, entitas semacam itu disebut sebagai komunitas sosial dan merupakan cikal penting sebelum kerja sama ekonomi dan militer diwujudkan.

Schuman mengemukakan pendapatnya di masa awal pasca-Perang Dunia II.

Kala itu Eropa yang babak belur memang membutuhkan suatu bentuk kegiatan sosial yang membuat mereka bisa merasa terkait.

Dalam soal olahraga, nilai sosial itu terangkum dengan baik di sepak bola.

Lewat kesebelasan, masyarakat Eropa yang multietnik dan ideologis bisa menunjukkan kekuatan mereka, tapi tetap dalam semangat sportivitas dan minim prasangka.

Pada kenyataannya, memang ‘Benua Biru’ lebih dahulu mengenal kerja sama sepak bola jika dibandingkan dengan kerja sama ekonomi.

European Economic Community (EEC) yang diarsiteki Schuman berdiri pada 1958, atau empat tahun setelah UEFA.

EEC kemudian menjadi embrio Uni Eropa (EU).

Kini, dengan UE yang mulai rontok, apakah berarti negara Eropa hanya cocok untuk hubungan sosial? Tentunya tidak.

Masih banyak kesepakatan ekonomi di luar UE, seperti European Economic Area (EEA) dan European Free Trade Association (EFTA) yang lahir setelah EEC.

Di luar itu, penyelenggaraan sepak bola penuh hitung-hitungan ekonomi yang membuat negara-negara harus bekerja sama.

Untuk penyelenggaraan Euro 2016, misalnya, sebelumnya ada Swedia dan Norwegia yang menawarkan diri sebagai duo tuan rumah.

Negara host memang diperkirakan bisa meraih revenue hingga 1,3 miliar Euro, sedangkan panitia penyelenggara meraih 2 miliar euro dari berbagai sektor.

Namun, kedua negara itu mundur karena menghitung biaya persiapan yang membuat mereka tekor.

Masalah uang juga membuat penyelenggaraan Euro 2020 tidak memiliki host country, tapi diselenggarakan di 13 kota, mulai Bilbao sampai St Petersburg.

Penyelenggaraan model itu tentunya tidak akan berhasil jika negara-negara Eropa tidak punya keterbukaan untuk arus manusia.

Malah, dalam sepak bola sebenarnya keterbukaan itu yang telah lama ikut menentukan kejayaan tim.

Banyak pemain merupakan imigran ataupun keturunan imigran, baik dari dalam Eropa maupun luar.

Di Euro 2016 saja, hanya pemain Rumania yang murni terdiri atas imigran.

Sementara itu, Jerman ialah contoh tim yang kaya etnik.

Pemain mereka bukan saja imigran dari Polandia, Turki, Albania, dan Spanyol, melainkan juga dari negara-negara Afrika.

Lebih dari itu, sepak bola Eropa juga memberikan pelajaran bahwa imigran tidak akan menghabiskan lapangan pekerjaan pribumi.

Sebab itu, internasionalisme sepak bola telah membuat kue ekonomi sektor itu terus tumbuh.

Di level klub, Eropa kini punya sekitar 900 klub profesional dan gaji pemain setidaknya telah berlipat empat kali sejak era 90-an.

Tanpa imigran, negara-negara Eropa dengan demografi yang menua tidak akan mampu memenuhi kebutuhan talenta pemain ataupun pekerja di berbagai sektor bisnis.

Jerman saja butuh 370 ribu imigran tiap tahun jika tidak ingin mengalami krisis pekerja pada 2030.

Jadi, jika berkaca pada interdependensi yang ada di sepak bola, komunitas eropa sesungguhnya tidak tergoyahkan.

Kerja sama transnasional selalu akan terjadi karena memang tidak ada negara yang bisa benar-benar ‘exit’ dari interdependensi.

(R-2)

Leave a Reply