Hollande Ingatkan Inggris Tebus Brexit PRESIDEN Prancis Francois Hollande memperingatkan Inggris bahwa keputusan meninggalkan Uni Eropa (Brexit) 8 October 2016, 05:00 WIB

PRESIDEN Prancis Francois Hollande memperingatkan Inggris bahwa keputusan meninggalkan Uni Eropa (Brexit) bakal berdampak buruk terhadap negara itu.

Hollande meminta UE menyikapi Brexit secara tegas untuk menjaga negara anggota UE lainnya agar tidak mengikuti langkah Inggris.

“Ada harga yang harus dibayar Inggris. Jika tidak, Uni Eropa bakal berada dalam negosiasi yang tak menguntungkan dan pada akhirnya berimbas negatif pada ekonomi UE,” ujar Hollande seperti dikutip AFP, Jumat (7/10).

Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris Theresa May mengumumkan Inggris akan memulai negosiasi Brexit pada akhir Mei 2017.

May menargetkan Inggris bakal resmi keluar dari UE pada 2019.

Pemerintahan May dan partainya saat ini masih belum memutuskan akan memilih pendekatan hard Brexit atau soft Brexit.

Jika memilih hard Brexit, Inggris bakal memutus semua hubungan dengan UE dan bergantung sepenuhnya pada aturan World Trade Organization (WTO) ketika menjalankan kegiatan perdagangan luar negeri mereka.

“Saat ini, Inggris ingin meninggalkan Uni Eropa, tapi tak mau membayar konsekuensinya. Hal itu tidak dibenarkan,” ujarnya.

Lebih jauh, Hollande meminta negara-negara UE agar bersatu dan ‘memaksakan’ opsi hard Brexit.

Sikap tegas terhadap Inggris, menurut Hollande, bakal meminimalkan skeptisme terhadap Uni Eropa dan nilai-nilai yang dianut lembaga tersebut.

“Kita harus tegas. Jika tidak, prinsip-prinsip Uni Eropa akan dipertanyakan dan pihak-pihak atau negara lain bakal mengikuti langkah Inggris karena iming-iming keuntungan yang bakal diperoleh dari langkah tersebut,” cetusnya.

Komentar Hollande dikeluarkan di tengah tak menentunya perekonomian dan pasar Eropa pasca-Brexit.

Jumat lalu, nilai kurs pound sterling bahkan anjlok ke posisi terburuk sepanjang sejarah.

Sebelumnya, Komisioner Uni Eropa Valdis Dombrovskis memperingatkan bahwa UE tidak akan membiarkan Inggris mendapat keuntungan dari industri keuangan mereka ketika gerakan bebas tenaga kerja pada masa Brexit. (AFP/Ire/I-3)

Leave a Reply